X

Pengertian Teori Atribusi (Attribution Theory)

Pengertian Teori Atribusi – Teori atribusi berkaitan dengan bagaimana orang menjelaskan penyebab perilaku dan peristiwa. Misalnya, apakah seseorang marah karena mereka pemarah atau karena sesuatu yang buruk terjadi?

Definisi resmin teori atribusi diberikan oleh Fiske dan Taylor (1991, hal. 23):

“Teori atribusi berkaitan dengan bagaimana penerima sosial menggunakan informasi untuk sampai pada penjelasan sebab akibat sebuah peristiwa. Teori ini mengkaji informasi apa yang dikumpulkan dan bagaimana digabungkan untuk membentuk penilaian kausal”.

Heider (1958) percaya bahwa orang adalah psikolog naif yang mencoba memahami dunia sosial. Orang-orang cenderung melihat hubungan sebab dan akibat, meskipun tidak ada!

Heider tidak terlalu mengembangkan teori sendiri seperti menekankan tema-tema tertentu yang diambil orang lain. Ada dua ide utama yang dikemukakannya yang cukup berpengaruh: atribusi disposisional (penyebab internal) vs situasional (penyebab eksternal).

Atribusi Disposisional vs Situational

1. Atribusi Disposisional

Atribusi disposisional menetapkan penyebab perilaku pada karakteristik internal seseorang, bukan eksternal.Ketika kita menjelaskan perilaku orang lain, kita mencari atribusi internal yang abadi, seperti ciri-ciri kepribadian. Hal ini dikenal sebagai kesalahan atribusi mendasar .

Sebagai contoh, kita menghubungkan perilaku seseorang dengan kepribadian, motif atau kepercayaan mereka.

2. Atribusi Situasional

Yaitu proses menetapkan penyebab perilaku pada beberapa situasi atau peristiwa di luar kendali seseorang di luar beberapa karakteristik internal.Ketika kita mencoba menjelaskan perilaku kita sendiri, kita cenderung membuat atribusi eksternal, seperti penyebab situasional atau lingkungan.

Teori Inferensi Koresponden Jones & Davis

Jones dan Davis (1965) berpikir bahwa orang menaruh perhatian khusus pada perilaku yang disengaja (sebagai lawan dari perilaku yang tidak disengaja atau tidak terpikirkan).

Teori Jones dan Davis membantu kita memahami proses membuat atribusi internal. Mereka mengatakan bahwa kita cenderung melakukan ini ketika kita melihat korespondensi antara motif dan perilaku. Misalnya, ketika kita melihat korespondensi antara seseorang yang bersikap ramah dan menjadi orang yang ramah.

Atribusi disposisional (yaitu, internal) memberi kita informasi dari mana kita dapat membuat prediksi tentang perilaku masa depan seseorang. Teori inferensi koresponden menggambarkan kondisi di mana kita membuat atribut disposisional untuk perilaku yang kita anggap disengaja.

Davis menggunakan istilah inferensi koresponden untuk merujuk pada suatu peristiwa ketika seorang pengamat menyimpulkan bahwa perilaku seseorang cocok atau sesuai dengan kepribadian mereka. Ini adalah istilah alternatif untuk atribusi disposisional.

Jadi apa yang membuat kita membuat inferensi koresponden? Jones dan Davis mengatakan kita menggunakan lima sumber informasi:

  1. Pilihan : Jika suatu perilaku dipilih secara bebas, hal itu diyakini disebabkan oleh faktor internal (disposisional).
  2. Perilaku Kebetulan vs Disengaja : Perilaku yang disengaja cenderung dikaitkan dengan kepribadian seseorang, dan perilaku yang tidak disengaja cenderung dikaitkan dengan situasi / penyebab eksternal.
  3. Keinginan Sosial : Perilaku yang rendah dalam hasrat bersosialisasi (tidak sesuai) menuntun kita untuk membuat inferensi disposisi (internal) lebih dari perilaku sosial yang tidak diinginkan. Misalnya, jika Anda mengamati seseorang naik bus dan duduk di lantai, bukannya di salah satu kursi. Perilaku ini memiliki keinginan sosial yang rendah (tidak sesuai) dan cenderung sesuai dengan kepribadian individu.
  4. Relevansi Hedonistik: Jika perilaku orang lain tampaknya secara langsung dimaksudkan untuk memberi manfaat atau membahayakan kita.
  5. Personalisme : Jika perilaku orang lain tampaknya dimaksudkan untuk berdampak pada kita, kita menganggap bahwa itu “pribadi”, dan bukan hanya produk sampingan dari situasi di mana kita berdua berada.

Model Kovariat Kelley

Model kovariat Kelley (1967) adalah teori atribusi yang paling terkenal. Dia mengembangkan model logis untuk menilai apakah suatu tindakan tertentu harus dikaitkan dengan beberapa karakteristik (disposisi) dari orang tersebut atau lingkungan (situasional).

Istilah kovarisasi berarti bahwa seseorang memiliki informasi dari banyak pengamatan, pada waktu dan situasi yang berbeda, dan dapat merasakan kovarisasi efek yang diamati dan penyebabnya.

Dia berpendapat bahwa dalam mencoba menemukan penyebab perilaku maka orang bertindak seperti ilmuwan. Lebih khusus mereka memperhitungkan 3 bukti.

  • Konsensus : sejauh mana orang lain berperilaku dengan cara yang sama dalam situasi yang sama. Misalnya, Bambang mengisap sebatang rokok ketika dia pergi keluar untuk makan bersama temannya. Jika temannya merokok, perilakunya tinggi dalam konsensus. Kalau hanya Bambang yang merokok maka konsensusnya rendah.
  • Kekhasan : sejauh mana orang tersebut berperilaku dengan cara yang sama dalam situasi yang sama. Jika Bambang hanya merokok ketika dia keluar dengan teman-teman, perilakunya tinggi dalam kekhasan. Jika dia merokok kapan saja atau di mana saja, kekhasannya rendah.
  • Konsistensi : sejauh mana orang berperilaku seperti ini setiap kali situasi terjadi. Jika Bambang hanya merokok ketika dia keluar dengan teman-temannya, konsistensi tinggi. Jika dia hanya merokok pada satu kesempatan khusus, konsistensi rendah.

Mari kita lihat contoh untuk membantu memahami teori atribusi khususnya. Subjeknya adalah Tom. Perilakunya adalah tawa. Tom menertawakan seorang komedian.

Pengertian Teori Atribusi (Attribution Theory)

1. Konsensus (Consensus)

Jika semua orang di antara hadirin tertawa, konsensusnya tinggi. Andai hanya Tom yang tertawa, konsensusnya rendah.

2. Kekhasan (Distinctiveness)

Jika Tom hanya menertawakan komedian ini, kekhasannya tinggi. Jika Tom menertawakan semuanya, maka kekhasannya rendah.

3. Konsistensi (Consistency)

Jika Tom selalu menertawakan komedian ini, konsistensinya tinggi. Jika Tom jarang menertawakan komedian ini, maka konsistensi rendah.

Namun satu masalah adalah bahwa kita mungkin tidak memiliki cukup informasi untuk membuat penilaian semacam itu. Misalnya, jika kita tidak mengenal Tom dengan baik, kita tidak perlu memiliki informasi untuk mengetahui apakah perilakunya konsisten dari waktu ke waktu. Jadi apa yang kita lakukan?

Menurut Kelley kita kembali pada pengalaman masa lalu dan mencari keduanya

1) Berbagai penyebab yang perlu. Sebagai contoh, kita melihat seorang atlet memenangkan maraton, dan kita beralasan bahwa dia pasti sangat bugar, bermotivasi tinggi, telah berlatih keras dll, dan bahwa dia harus memiliki semua ini untuk menang

2) Banyak penyebab yang cukup. Sebagai contoh, kita melihat seorang atlet gagal dalam tes narkoba, dan kita beralasan bahwa dia mungkin mencoba menipu, atau telah menggunakan zat terlarang secara tidak sengaja maupun disengaja, salah satu alasan akan cukup.

Categories: Psikologi