Pengertian Teori Altruisme

Pengertian Teori Altruisme dan 3 Jenis Altruisme

Pengertian Teori Altruisme – Apa itu altruisme? Altruisme adalah kebalikan dari egoisme. Altruisme adalah tindakan memberi atau menolong orang lain yang sedang kesusahan karena kesakitan atau membutuhkan bantuan  tanpa pamrih dan tanpa harapan mendapatkan sesuatu sebagai balasan.

3 jenis altruisme

  1. Dorongan altruistik (altruisme sejati) melibatkan bantuan spontan
  2. Altruisme yang dipelajari  melibatkan perilaku yang telah diperkuat oleh hasil positif
  3. Altruisme yang disengaja melibatkan ekspektasi timbal balik, dan pada dasarnya adalah tindakan egois

Dorongan altruistik adalah jenis altruisme yang paling benar. Dorongan altruistik dianggap berasal dari empati. Empati memberi kita kemampuan untuk menempatkan diri dalam perspektif orang lain. Kita mungkin merasakan sakit orang lain, begitulah.

Tikus yang mengamati tikus lain berteriak, mungkin juga mulai menjerit. Ini karena mengamati dan mengalami emosi sehingga mengaktifkan beberapa wilayah otak yang sama.

Berikut adalah  beberapa contoh  dari perilaku altruistik pada hewan:

  • Paus dan gajah diketahui menjaga gajah lain yang sedang tertekan
  • Lumba-lumba dikatakan membebaskan lumba-lumba lainnya dari jaring nelayan
  • Seekor monyet pernah mencoba menyelamatkan bayi kecil yang tenggelam dengan mengorbankan nyawanya sendiri

Mungkin sulit untuk membedakan antara tiga jenis altruisme. Kita sering berpikir bahwa ada motif egoistik di balik impuls altruistik sejati, dan sebaliknya. Saya sendiri percaya bahwa empati memotivasi kita untuk menunjukkan perilaku altruistik.

Pengertian Teori Altruisme
Pengertian Teori Altruisme

Mengapa beberapa orang menunjukkan altruisme? Altruisme, termasuk empati, mungkin telah berevolusi untuk membantu kita bekerja sama dalam kelompok yang akan menjadi keuntungan evolusi. Kita mengkhususkan diri untuk interaksi sosial, dan otak manusia terhubung dengan orang lain:

Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama. Gagasan ini sering digambarkan sebagai aturan emas etika. Beberapa aliran filsafat, seperti Objektivisme berpendapat bahwa altruisme adalah suatu keburukan. Altruisme adalah lawan dari sifat egois yang mementingkan diri sendiri. Lawan dari altruisme adalah egoisme.

Altruisme dapat dibedakan dengan perasaan loyalitas dan kewajiban. Altruisme memusatkan perhatian pada motivasi untuk membantu orang lain dan keinginan untuk melakukan kebaikan tanpa memperhatikan ganjaran, sementara kewajiban memusatkan perhatian pada tuntutan moral dari individu tertentu (seperti Tuhan, raja), organisasi khusus (seperti pemerintah), atau konsep abstrak (seperti patriotisme, dsb). Beberapa orang dapat merasakan altruisme sekaligus kewajiban, sementara yang lainnya tidak. Altruisme murni memberi tanpa memperhatikan ganjaran atau keuntungan.

Konsep ini memiliki sejarah panjang dalam filosofis dan etika berpikir. Istilah ini awalnya diciptakan oleh pendiri sosiologi dan filsuf ilmu pengetahuan, Auguste Comte, dan telah menjadi topik utama bagi psikolog (terutama peneliti psikologi evolusioner), biologi evolusioner, dan etolog. Sementara ide-ide tentang altruisme dari satu bidang dapat memberikan dampak pada bidang lain, metode yang berbeda dan fokus bidang-bidang ini menghasilkan perspektif yang berbeda pada altruisme.

“… Altruisme yang tulus, kesediaan untuk mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk membantu orang lain, termasuk mereka yang bukan anggota keluarga, dan tanpa imbalan.” (Bowles & Gintis, 2013, hlm. 203 ).