Pengertian Teori Big Bang

Pengertian Teori Big Bang

Pengertian Teori Big Bang – Big bang adalah model terpenting yang digunakan para ilmuwan untuk menggambarkan penciptaan alam semesta. Teori ini mengusulkan bahwa alam semesta diciptakan dalam peristiwa hebat sekitar 12 hingga 15 miliar tahun yang lalu. Dalam peristiwa itu, unsur-unsur paling ringan terbentuk, yang menyediakan dasar untuk semua materi yang ada di alam semesta saat ini. Konsekuensi dari big bang adalah kita hidup di alam semesta yang mengembang, nasib akhir yang tidak dapat diprediksi dari informasi yang kita miliki saat ini.

Info : Islam mengajarkan bahwa dunia akan berakhir yang ditandai dengan terjadinya kiamat

Evolusi alam semesta

Ahli kosmologi (ilmuwan yang mempelajari asal mula alam semesta) percaya bahwa alam semesta bermula sebagai bola api yang sangat padat dan panas. Mereka menyebut titik tunggal ini yang mengandung semua materi di alam semesta sebagai singularitas. Waktu dimulai pada saat bola api ini meledak, merentangkan ruang yang meluas dengan cepat. (Ruang di mana bola api itu meledak tidak ada secara terpisah, tetapi merupakan bagian dari bola api di awal.) Alam semesta, pada awalnya tidak lebih besar dari ukuran proton, diperluas dalam mikrodetik ke ukuran bola basket. Gravitasi muncul, dan partikel-partikel subatom membanjiri alam semesta, saling membanting, membentuk proton dan neutron (partikel elementer yang membentuk atom).

Tiga menit setelah big bang, suhu alam semesta mendingin hingga 500.000.000 °F (277.777.760 °C). Proton dan neutron mulai bergabung membentuk inti dari unsur kimia sederhana seperti hidrogen, helium, dan lithium. Lima ratus ribu tahun kemudian, atom terbentuk. Sekitar 300 juta tahun lagi berlalu sebelum alam semesta mengembang

dan cukup dingin untuk terbentuk bintang dan galaksi. Tata surya kita, terbentuk dari awan debu dan gas, terbentuk hanya empat setengah miliar tahun yang lalu.

Pencarian awal

Asumsi kunci yang menjadi dasar teori big bang adalah bahwa alam semesta terus mengembang. Sebelum abad kedua puluh, para astronom berasumsi bahwa alam semesta selalu ada sebagaimana adanya, tanpa perubahan apa pun. Namun, pada 1920-an, astronom Amerika Edwin Hubble (1889–1953) menemukan bukti yang dapat diamati bahwa galaksi lain ada di alam semesta selain galaksi Bima Sakti kita. Pada tahun 1929, ia membuat penemuannya yang paling penting yaitu semua materi di alam semesta bergerak menjauh dari semua materi lainnya. Ini membuktikan bahwa alam semesta mengembang.

Pengertian Teori Big Bang
Pengertian Teori Big Bang

Hubble mencapai kesimpulan ini dengan melihat cahaya yang datang ke Bumi dari galaksi yang jauh. Jika galaksi-galaksi ini memang bergerak menjauh dari Bumi dan satu sama lain, cahaya yang dipancarkannya akan memanjang atau akan memiliki panjang gelombang yang lebih panjang. Karena cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang memiliki warna kemerahan, peregangan ini disebut pergeseran merah. Hubble mengukur pergeseran merah untuk banyak galaksi dan tidak hanya menemukan bahwa galaksi bergerak menjauh dari Bumi ke segala arah, tetapi galaksi yang lebih jauh tampaknya bergerak menjauh dengan kecepatan yang lebih cepat.

Teori inflasi dan latar belakang gelombang mikro kosmik

Pada pertengahan 1960-an, teori Big Bang (Dentuman Besar) telah diterima secara luas oleh para ilmuwan. Namun, beberapa masalah dengan teori itu masih ada. Ketika ledakan besar terjadi, radiasi panas (energi dalam bentuk gelombang atau partikel) yang dilepaskan oleh ledakan meluas dan mendingin dengan alam semesta. Radiasi ini, yang dikenal sebagai latar belakang gelombang mikro kosmik, muncul sebagai desisan lemah suara radio yang datang dari semua arah di ruang angkasa. Dalam arti tertentu, ini adalah cahaya tertua di alam semesta. Ketika para astronom mengukur latar belakang gelombang mikro kosmik ini, mereka mendapati suhunya berada di bawah -450  F (-270 °C). Ini adalah suhu yang tepat jika alam semesta mengembang dan mendingin sejak big bang.

Tetapi radiasi tampak mulus, tanpa fluktuasi suhu. Jika radiasi telah mendingin pada kecepatan tetap, maka alam semesta harus mengembang dan mendingin pada kecepatan tetap. Jika ini benar, planet dan galaksi tidak akan bisa terbentuk karena gravitasi, yang akan membantu mereka berkumpul bersama akan menyebabkan fluktuasi dalam pembacaan suhu.

Pada tahun 1980, astronom Amerika Alan Guth mengusulkan ide tambahan untuk teori big bang. Disebut teori inflasi, ini menunjukkan bahwa pada awalnya alam semesta berkembang pada tingkat yang jauh lebih cepat daripada sekarang. Konsep ekspansi yang dipercepat ini memungkinkan pembentukan bintang-bintang dan planet-planet yang kita lihat di alam semesta saat ini.

COBE dan MAP

Teori inflasi Guth didukung pada April 1992, ketika NASA (National Aeronautics and Space Administration) mengumumkan bahwa satelit Cosmic Background Explorer (COBE) telah menemukan fluktuasi tersebut. COBE melihat sekitar 13 miliar tahun cahaya ke ruang angkasa (yaitu13 miliar tahun ke masa lalu) dan mendeteksi fluktuasi suhu kecil di latar belakang gelombang mikro kosmik. Para ilmuwan menganggap fluktuasi ini sebagai bukti bahwa gangguan gravitasi ada di alam semesta awal, yang memungkinkan materi untuk berkumpul bersama untuk membentuk benda besar seperti galaksi dan planet.

Pada akhir tahun 2000, para ilmuwan menambahkan bukti pendukung lebih lanjut ke validitas teori big bang ketika mereka mengumumkan bahwa telah menganalisis cahaya dari quasar yang diserap oleh awan debu gas miliaran tahun yang lalu. Pada saat itu, jagat raya sekitar seperenam dari usia sekarang. Berdasarkan temuan mereka, para ilmuwan memperkirakan bahwa suhu latar belakang pada saat itu adalah sekitar -443 °F (-264 °C), tanda suhu yang sesuai dengan prediksi teori big bang.

Para astronom masa kini menyamakan penelitian latar belakang gelombang mikro kosmik dalam kosmologi dengan penelitian DNA (asam deoksiribonukleat yaitu molekul kompleks yang menyimpan dan mentransmisikan informasi genetik) dalam biologi. Mereka menganggapnya sebagai benih asal bintang dan galaksi tumbuh. Untuk memperluas cakupan dan ketelitian studi tersebut, NASA meluncurkan satelit yang disebut Microwave Anisotropy Probe (MAP) pada tahun 2001. Mengorbit lebih jauh dari Bumi daripada COBE, tujuan MAP adalah untuk mengukur perbedaan suhu di latar belakang gelombang mikro kosmik pada banyak skala yang lebih halus. Para astronom berharap informasi yang dikumpulkan oleh MAP akan mengungkapkan banyak hal tentang alam semesta, termasuk geometri berskala besar.