Pengertian Teori Pembelajaran Sosial

Pengertian Teori Pembelajaran Sosial

Teori Pembelajaran Sosial – Teori belajar sosial adalah teori yang berusaha menjelaskan sosialisasi dan pengaruhnya terhadap perkembangan diri. Ada banyak teori berbeda yang menjelaskan bagaimana orang bersosialisasi, termasuk teori psikoanalitik, fungsionalisme, teori konflik, dan teori interaksi simbolik. Teori belajar sosial, melihat proses belajar individu, pembentukan diri, dan pengaruh masyarakat dalam sosialisasi individu.

Sejarah Teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial menganggap pembentukan identitas seseorang sebagai respons yang dipelajari terhadap rangsangan sosial. Ini menekankan konteks sosial dari sosialisasi daripada pikiran individu. Teori ini mendalilkan bahwa identitas individu bukanlah produk dari ketidaksadaran (seperti kepercayaan para ahli teori psikoanalitik), tetapi merupakan hasil pemodelan diri sendiri sebagai tanggapan terhadap harapan orang lain. Perilaku dan sikap berkembang sebagai respons terhadap penguatan dan dorongan dari orang-orang di sekitar kita. Para ahli teori pembelajaran sosial mengakui bahwa pengalaman masa kanak-kanak itu penting, mereka juga percaya bahwa identitas yang diperoleh orang lebih banyak dibentuk oleh perilaku dan sikap orang lain.

Teori belajar sosial berakar pada psikologi dan sangat dibentuk oleh psikolog Albert Bandura. Sosiolog paling sering menggunakan teori pembelajaran sosial untuk memahami kejahatan dan penyimpangan.

[irp posts=”1127″ name=”Biografi Psikolog Albert Bandura”]

Pengertian Teori Pembelajaran Sosial
Pengertian Teori Pembelajaran Sosial

Teori Belajar Sosial dan Kejahatan / Penyimpangan

Menurut teori pembelajaran sosial, orang terlibat dalam kejahatan karena hubungannya dengan orang lain yang terlibat dalam kejahatan. Perilaku kriminal mereka diperkuat dan mereka belajar tentang keyakinan yang mendukung kejahatan. Mereka pada dasarnya memiliki model kriminal yang mereka asosiasikan. Sebagai akibatnya, orang-orang ini memandang kejahatan sebagai sesuatu yang diinginkan, atau setidaknya dapat dibenarkan dalam situasi tertentu. Mempelajari perilaku kriminal atau menyimpang sama dengan belajar untuk terlibat dalam perilaku menyesuaikan diri yang dilakukan melalui pergaulan atau dengan orang lain. Bahkan, hubungan dengan teman nakal adalah prediktor terbaik perilaku naka.

Teori pembelajaran sosial mendalilkan bahwa ada tiga mekanisme dimana individu belajar untuk terlibat dalam kejahatan: penguatan diferensial, keyakinan, dan pemodelan.

Penguatan Diferensial atas Kejahatan

Penguatan diferensial kejahatan berarti bahwa individu dapat mengajar orang lain untuk terlibat dalam kejahatan dengan memperkuat dan menghukum perilaku tertentu. Kejahatan lebih mungkin terjadi jika 1. Sering diperkuat dan jarang dihukum; 2. Menghasilkan banyak penguatan (seperti uang, persetujuan sosial, atau kesenangan) dan sedikit hukuman; dan 3. Lebih mungkin diperkuat daripada perilaku alternatif. Studi menunjukkan bahwa individu yang diperkuat untuk kejahatan mereka lebih cenderung terlibat dalam kejahatan berikutnya, terutama ketika mereka berada dalam situasi yang serupa dengan yang sebelumnya.

Keyakinan yang Menguntungkan Kejahatan

Selain memperkuat perilaku kriminal, individu lain juga dapat mengajarkan keyakinan seseorang yang mendukung kejahatan. Survei dan wawancara dengan penjahat menunjukkan bahwa keyakinan yang mendukung kejahatan jatuh ke dalam tiga kategori. Pertama adalah persetujuan terhadap bentuk-bentuk kejahatan kecil tertentu, seperti perjudian, penggunaan narkoba, penggunaan alkohol dan pelanggaran jam malam. Kedua adalah persetujuan atau pembenaran atas bentuk-bentuk kejahatan tertentu, termasuk beberapa kejahatan serius. Orang-orang ini percaya bahwa kejahatan pada umumnya salah, tetapi bahwa beberapa tindakan kriminal dapat dibenarkan atau bahkan diinginkan dalam situasi tertentu. Sebagai contoh, banyak orang akan mengatakan bahwa perkelahian itu salah, tetapi dibenarkan jika individu tersebut dihina atau diprovokasi. Ketiga, beberapa orang memiliki nilai-nilai umum tertentu yang lebih kondusif bagi kejahatan dan menjadikan kejahatan tampak sebagai alternatif yang lebih menarik daripada perilaku lainnya. Misalnya, individu yang memiliki keinginan besar untuk kesenangan.

Peniruan Model Kriminal

Misalnya, seseorang yang menyaksikan seseorang yang mereka hormati melakukan kejahatan, yang kemudian diperkuat untuk kejahatan itu, kemudian orang akan lebih mungkin melakukan kejahatan itu sendiri.