Tahun Baru Hijriah, Sejarah yang Patut Diketahui Oleh Kaum Muslimin No ratings yet.

Diposting pada

Tahun Baru Hijriah sangat dikenal oleh kaum muslimin di Indonesia bahkan di sebagian daerah melakukan perayaan tertentu. Berbeda dengan tahun baru masehi yang jatuh setiap tanggal 1 Januari yang menggunakan acuan revolusi Bumi dalam penentuan tanggalnya, tahun baru hijriah menggunakan acuan patokan Bulan dalam menentukan tanggalnya.

Sejarah Tahun  Baru Hijriah

Kalender hijriah dimulai dengan salah satu peristiwa paling ikonik dalam sejarah Islam yaitu hijrah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat dari Mekkah ke Madinah untuk mendirikan tatanan sosial barunya. Hingga hari ini, umat Islam menentukan tanggal hijriah mulai dari migrasi itu sekitar 1435 tahun yang lalu.

Ini adalah aspek unik dari Era Islam yang tidak dimulai dengan kemenangan perang Islam, kelahiran, kematian Nabi Muhammad, atau Wahyu Alquran, namun dimulai dengan hijrah atau pengorbanan demi kebenaran. Allah SWT ingin mengajarkan manusia bahwa perjuangan antara kebenaran dan kejahatan adalah abadi. Tahun hijriah mengingatkan umat Islam setiap tahun bukan tentang kemegahan dan kemuliaan Islam tetapi tentang pengorbanannya, dan mempersiapkan kaum muslimin untuk melakukan hal yang sama.

Bulan Muharram menandai dimulainya tahun Islam baru. Kalender Islam diperkenalkan oleh Umar bin Al Khattab, Khalifah Islam kedua dan salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW pada tahun 638 masehi.

Bagi umat Islam, kalender Islam tidak hanya memiliki signifikansi sentimental perhitungan waktu dan menandai peristiwa keagamaan penting, misalnya puasa dan haji, tetapi juga memiliki makna religius dan historis yang jauh lebih dalam. Semua peristiwa sejarah dalam sejarah Islam yang tertanggal dalam kalender Islam, berfungsi sebagai pengingat akan pengorbanan yang dilakukan di jalan Islam, terutama selama masa Nabi SAW. Pelajaran dan makna dari peristiwa-peristiwa ini agak hilang dalam perhitungan Gregorian/masehi, oleh karena itu umat Islam sebaiknya menggunakan kalender hijriah.

Baca:  Kegunaan Sejarah, Mengapa Kita Belajar Sejarah?

 

Satu tahun hijriah memiliki total dua belas bulan yaitu sebagai berikut:

  1. Muharram
  2. Safar
  3. Rabi’ul Awal
  4. Rabi’ul Akhir
  5. Jumadil Awal
  6. Jumadil Akhir
  7. Rajab
  8. Sya’ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulka’dah
  12. Dzulhijah

Tanggal paling penting dalam tahun hijriah adalah: 1 Muharram (hari pertama tahun ini), 27 Rajab (Isra dan Miraj), 1 Ramadhan (hari pertama puasa), 17 Ramadhan (Perang Badar), 10 hari Ramadhan terakhir (yang termasuk Lailatul Qadar ketika Alquran diturunkan), 1 Syawal (Idul Fitri) & 10 Dzulhijah (Idul Adha).

Menurut kalender hijriah, hari berikutnya dimulai dari waktu Maghrib atau matahari terbenam setiap hari, sedangkan untuk kalender masehi, hari baru dimulai pukul 24:00 setiap malam. Ini adalah salah satu perbedaan utama di antara kedua kalender. Awal setiap bulan Hijriah ditandai dengan penampakan fisik bulan sabit pada titik tertentu di dunia.

Apalagi, Muharram, Rajab, Dzulka’dah, dan Dzulhijah dianggap sebagai bulan-bulan suci. Dalam budaya tradisional Arab, empat bulan ini dikenal sebagai bulan terlarang di mana pertempuran/perang dilarang dan ditangguhkan untuk memungkinkan terjadinya perdagangan dan perdamaian.

Kalender hijriah dianggap sebagai kalender resmi di berbagai negara Muslim di seluruh dunia, terutama negara-negara seperti Arab Saudi. Negara-negara Muslim lainnya menggunakan kalender Gregorian/masehi untuk tujuan keseharian dan beralih ke kalender Islam untuk hal-hal yang berkaitan dengan agama termasuk negara kita Indonesia. Secara keseluruhan, kalender Islam memiliki arti penting yang sangat besar dalam kehidupan setiap Muslim.

Liburan di Tahun Baru Hijriah

Di tahun 2019 masehi, awal tahun hijriah jatuh pada tanggal 30 Agustus 2019 dan menjadi hari libur nasional. Momen liburan ini bisa anda gunakan menjelajahi destinasi wisata yang banyak tersedia ketika tahun baru hijriah tiba.

Gambar Gravatar
Seorang Guru dan Dosen. Aktif melakukan riset di bidang pendidikan dan fisika. Lulusan sarjana pendidikan Universitas Negeri Makassar dan magister Pascasarjana Universitas Negeri Makassar. Artikel dalam website ini valid dan dapat dipercaya kebenarannya.